Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.
Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?
Syair ini seperti bahasa lain dari ungkapan seorang Edward Tigor Siahaan (photograper internasional) yang bercerita tentang pengalamannya, tempo hari. Saya sudah menjalani beberapa negara, banyak tempat eksotik yang sudah saya potret langsung, namun kerinduan dan kecintaan selalu berpulang ke Danau Toba. Entah mengapa. Sepulang dari perjalanan jauh dan begitu mendekati Danau Toba, seolah ada suara yang bertalu-talu dalam diri ini. Suara itu akan menggapai senandungnya, sesaat telapak kaki sudah berdiri di salah satu bukit. Memandang sang kerinduan, Danau Toba, dari kejauhan. Beberapa kali jemari menekan tombol kamera. Mengabadikan ruang dan waktu dalam pigura. Mata menyusur mencari titik perspektif. Sebuah cara menangkap keindahan semesta yang mungkin saja hanya sedikit orang yang mau mengasahnya. Banyak mata yang telah kehilangan sentuhan cahaya keindahan. Khususnya di Tapanuli. Tak ada estetika. Tak ada seni.
Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?
Syair ini seperti bahasa lain dari ungkapan seorang Edward Tigor Siahaan (photograper internasional) yang bercerita tentang pengalamannya, tempo hari. Saya sudah menjalani beberapa negara, banyak tempat eksotik yang sudah saya potret langsung, namun kerinduan dan kecintaan selalu berpulang ke Danau Toba. Entah mengapa. Sepulang dari perjalanan jauh dan begitu mendekati Danau Toba, seolah ada suara yang bertalu-talu dalam diri ini. Suara itu akan menggapai senandungnya, sesaat telapak kaki sudah berdiri di salah satu bukit. Memandang sang kerinduan, Danau Toba, dari kejauhan. Beberapa kali jemari menekan tombol kamera. Mengabadikan ruang dan waktu dalam pigura. Mata menyusur mencari titik perspektif. Sebuah cara menangkap keindahan semesta yang mungkin saja hanya sedikit orang yang mau mengasahnya. Banyak mata yang telah kehilangan sentuhan cahaya keindahan. Khususnya di Tapanuli. Tak ada estetika. Tak ada seni.
Dengan keadaan seperti sekarang ini, dengan nuansa yang ada sekarang, cukup hanya 10 menit untuk menikmati Danau Toba. Hanya sepuluh menit saja. Selebihnya, sudah bisa dipastikan orang tak akan ingin berlama-lama disana. Wisatawan manapun tak akan menghabiskan waktunya untuk Danau Toba selain yang sepuluh menit itu. Sepuluh menit saja untuk keindahan Danau Toba.
Mengapa? karena segala sesuatu yang ada di sekitaran Danau Toba seperti berwajah diam. Sepuluh menit keterkesimaan bertemu dengan Danau Toba berlalu, selanjutnya orang berhadapan dengan peradaban yang diam. Kehidupan seolah berhenti. Denyut nadi seperti tak berdetak, beku. Darah tak menghantarkan adrenalin yang lain, dingin. Tak ada kehangatan. Tak ada kenyamanan, kaku. Bagaimana mau menjadi pusat inspirasi? pusat wisata? sumber semangat hidup? mata air pesona keindahan?
Ini salah satu poin yang mesti disadari oleh kita semua. Utamanya masyarakat di sekitar Danau Toba. Ada apa, kok kehidupan seolah berhenti berjalan di bumi Tapanuli ini? Sebab apa, sehingga semangat hidup itu tak terlihat disini? Wisatawan berkunjung tak semata hanya untuk melihat alam. Mereka juga ingin melihat manusia yang hidup bersama dengan alam itu. Manusia yang jatuh bangun dengan corak alamnya. Ironis sekali, keindahan agung Danau Toba harus bersanding dengan keterbelakangan peradaban. Manusia yang tinggal di sekitar Danau Toba perlu pencerahan. Ini tak bisa selamanya begini. Perubahan harus nyata. Meskipun harus didorong-dorong. Harus ada yang mau mengerjakan pekerjaan kotor itu. Membawa perubahan.
Daerah lain, negara lain, tak memiliki pesona sedahsyat ini. Namun, mereka bekerja keras. Mencipta berbagai aktifitas kreatif yang menarik. Yang tak diam, yang dinamis. Mereka mencipta pengalaman. Untuk disandingkan dengan fenomena alamnya. Sehingga klop. Pengunjung betah dan tak bosan-bosan. Malah merindukan untuk datang kembali. Ada pengalaman yang didapat, dikenang, disimpan, dihargai. Baik dari alamnya maupun dari manusianya. Siapa yang tak mencari pengalaman? Manusia belajar dari pengalaman. Pepatah berkata, guru yang paling bijak adalah pengalaman. Artinya, pengalaman adalah kebutuhan manusia yang tak terbantahkan.
Ada yang timpang disini. Hanya Danau Toba saja yang memberikan pengalaman kepada pengunjung. Dengan segala kesakitannya akibat pencemaran, akibat kelalaian, akibat ketidakmautahuan, akibat ketidakpedulian dari orang-orang yang disana. Dengan semua hal yang membuat hati miris itu, Danau Toba masih tetap setia memberikan pengalaman keindahan yang tak terbandingkan. Namun, seperti tadi itu. Hanya mampu bertahan sepuluh menit. Danau Toba seperti mengalami penyakit ejakulasi dini. Sehingga para kekasih, para pengembara, para pejalan yang berkunjung tak memperoleh kepuasan, tak memiliki kebahagiaan.
Masyarakat tak cukup hanya mengandalkan kemampuan Danau Toba saja. Masyarakat harus berpikir ekstra untuk mencipta pengalaman. Ya, menciptakan pengalaman. Berkreasi dengan aktifitas yang kreatif dan menarik untuk dijadikan kenangan dan pengalaman bagi pengunjung. Pengalaman yang bagaimana? Yang membuat setiap pengunjung menjadi terperangah, terkesima, dan terinspirasi. Baik oleh Danau Toba nya maupun oleh manusia nya.
Disaat Danau Toba tak pernah berhenti berseru-seru dalam bisikan kepada hati yang merindu, kepada jiwa yang mencinta. Semoga, masyarakat Tapanuli tak hanya diam.
Sangat rasional jika “batuknya” Sinabung dikaitkan sebagai indikasi akan ketakseimbangan sturuktur bukit barisan yang mengakar sampai ke pesisir Sumatera. Dan amat logis pula, jika kemudian kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap konsistensi penopang Danau Toba seperti dilansir beberapa media, mengutip pridiksi ilmuwan. Apalagi wacana menyebut, Samosir kini retak, rawan terbelah dua. Getaran Sinabung tentu membentuk pola baru dalam lapisan tanah, di persekitaran Danau Toba.
Mari kita membayangkan teori Black Hole, Stephen hawking. Lalu mari kita membayangkan peta Danau Toba dengan Samosirnya (tapi pakai peta terbaru) Mari turun melihat pesisir-pesisir danau yang tebingnya rawan runtuh. Mari kita naik agak ke atas tebing itu, dan lihatlah tak ada lagi penopang air di sana . Bukankah Sabulan dan Bulu Silape sudah buka calak? Katakan padaku daerah penopang mana di Danau Toba yang masih utuh?
Jika kemudian Danau Toba menjadi imbas, bisa dibayangkan Samosir akan lebur, tersedot danau, yang lalu membentuk pusaran air. Tentu kemudian ini menyeret juga pebukitan di sekitarnya yang memang rapuh, lapuk dengan tanah yang busuk, seperti mental pemkab-pemkabnya.
Bisa jadi daratan tinggi Batak, yang selama ini menjadi benteng akan runtuh, sehingga menyedot daerah-daerah lain di sekitarnya, termasuk Padang, Kerinci (Jambi) yang kontur alam dan tekstur tanah mirip dengan geologis Danau Toba, karena memang masih satu gugusan.
Sinabung memang bukan tipe A, seperti merapi. Ini karena pemerintah tak paham soal gunung. Dimana-mana gunung yang pucuknya lancip itu berbahaya, bukan soal kandungan magma, tapi potensi penyumbatan. Lagian apa ada gunung yang tak bermagma, selain “Gunung Tirtandi” itu.
Gunung itu terbentuk karena memang ada dorongan dari dalam tanah. Dorongan yang berasal dari pijar panas. Dan itu bernama magma. Inilah kalau petugas kita tak pernah naik gunung. Tak pernah sholat di puncak menjelang sunrise.
Dan pejabat kita cuma pandai buat villa di puncak, supaya ada tempat ia menyimpan gendiknya. Pola pemerintah kita memang beda. Potensi dampak buruk dikurang-kurangi, untuk selalu mempertahankan pencitraan. Tengoklah Jepang, masih sebulan mau gempa sudah ada aba-aba dari pemerintahnya. Kasus lain, misalnya TKI. Yang divonis mati 170 orang, pemerintah bilang cuma 3.
Buktinya waktu 200 ribuan orang mati ketika tsunami, apa ada dibuat hari berkabung nasional khusus, malah orang luar yang buat tugu peringatan di sana …
Pun kasus Sinabung, suka nyembur dulu laharnya ke istana supaya tahu mereka sakitnya.
Gunung Tambora aja yang puncaknya kayak lapangan golf ngeri kalau meletus.
Sial…. Sial…. Sial……..
Pernah suatu waktu ketika hiking di Sinabung, akuterkejut karena ada seorang sibaso yang bilang bahwa di
Lau Kawar ada sebuah istana. Di dalamnya ada gambar SBY dan (waktu itu masih) JK. Tapi tanpa burung Garuda!
Enak aja dia bilang enggak berbahaya. Ini bukan soal “melembutkan” hati rakyat atau meredakan kepanikan, atau asas kepatutan yang gombal itu, ini soal intropeksi………. Seperti kata Darwin ; Manusia karena kutukan moral dan intelektualnya harus menuhankan Tuhan. Dan Tuhan itu ada di pucuk pohon, batubatu, tebing-tebing, jurang-jurang, semak-semak, cacing, semut, bukan di kelamin….
Lalu sibaso itu bilang pada sepasang anak muda yang ngecamp itu.”Hey kamu kenapa suka telanjang-telanjang dalam tenda, kalian kan belum kawin.”
Alamak sakit kali kurasa. Oih datanglah Nini Sitepu bawa sekalian nagamu. Remuk kali perasaan ini ketika tak bisa aku melakukan apa-apa
Ketika melamunkan ini, tiba-tiba seekor cicak nyemplung ke gelas kopi saya. Tapi saya tetap menghabiskan sisanya. Saya menolak takdir, sebagaimana saya akan terus menolak TPL!
Sejumlah masyarakat di Parapat mendesak Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprovsu) agar mengakomodir keinginan warga di kawasan Danau Toba menjadi panitia PDT.
"Paling mengerti dengan kondisi Danau Toba pasti orang-orang yang bermukim di sekitar Danau Toba. Kami meminta agar warga di sekitar Danau Toba masuk dalam panitia PDT,” ujar Zul Sirait, warga Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Rabu 9 September 2010.
Menurut dia, beberapa tahun terakhir, justru panitia berasal dari luar, bukan orang-orang yang berasal dari sekitar pinggiran Danau Toba, sehingga pesta tahunan itu terkesan seremonial belaka.
Menurut Zul, beberapa tahun terakhir, kepanitiaan PDT dipegang orang-orang asal Medan, bahkan Jakarta. Selanjutnya, kata dia, panitia menempatkan panitia lokal di wilayah PDT. “Panitia lokal biasanya tak bergigi. Karena tidak memiliki wewenang mengambil kebijakan.”
Sedangkan Maralus Silaen, didampingi rekannya Antoni Sipayung, belum lama ini mengatakan, sudah saatnya pemerintah memperbaharui aturan main PDT, khususnya tentang kepanitiaan. Langkah yang paling bijak, kata Antoni, kepanitiaan langsung diambil-alih pemerintah daerah di sekitar Danau Toba, seperti Pemkab Simalungun, Pemkab Humbahas, Pemkab Taput, Pemkab Toba Samosir, dan lainnya.
"Dengan menjadikan daerah-daerah di sekeliling Danau Toba menjadi panitia PDT, maka akan membawa dampak yang cukup baik, khususnya bagi pariwisata di daerah-daerah sekitar. Sebab, mau tidak mau, pemerintah daerah akan mempromosikan daerahnya masing-masing," ujarnya
"Paling mengerti dengan kondisi Danau Toba pasti orang-orang yang bermukim di sekitar Danau Toba. Kami meminta agar warga di sekitar Danau Toba masuk dalam panitia PDT,” ujar Zul Sirait, warga Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Rabu 9 September 2010.
Menurut dia, beberapa tahun terakhir, justru panitia berasal dari luar, bukan orang-orang yang berasal dari sekitar pinggiran Danau Toba, sehingga pesta tahunan itu terkesan seremonial belaka.
Menurut Zul, beberapa tahun terakhir, kepanitiaan PDT dipegang orang-orang asal Medan, bahkan Jakarta. Selanjutnya, kata dia, panitia menempatkan panitia lokal di wilayah PDT. “Panitia lokal biasanya tak bergigi. Karena tidak memiliki wewenang mengambil kebijakan.”
Sedangkan Maralus Silaen, didampingi rekannya Antoni Sipayung, belum lama ini mengatakan, sudah saatnya pemerintah memperbaharui aturan main PDT, khususnya tentang kepanitiaan. Langkah yang paling bijak, kata Antoni, kepanitiaan langsung diambil-alih pemerintah daerah di sekitar Danau Toba, seperti Pemkab Simalungun, Pemkab Humbahas, Pemkab Taput, Pemkab Toba Samosir, dan lainnya.
"Dengan menjadikan daerah-daerah di sekeliling Danau Toba menjadi panitia PDT, maka akan membawa dampak yang cukup baik, khususnya bagi pariwisata di daerah-daerah sekitar. Sebab, mau tidak mau, pemerintah daerah akan mempromosikan daerahnya masing-masing," ujarnya


